Sabtu, 28 Januari 2017

Negeri diatas Awan; Wonosobo

Aku terlahir dan besar di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, Wonosobo. Kabupaten yang terkenal dengan dataran tinggi dieng dan buah carica nya. Masa indah yang kuhabiskan di sini semenjak aku SD sampai aku menginjak bangku SMA. Aku mulai bertualang mencari ilmu ke Semarang setelah aku menyelesaikan masa SMA ku. “Nama saya Akbar Wicaksono dan saya berasal dari Wonosobo, ada yang mau di tanyakan?” buka ku memperkenalkan diri di depan teman baru ku di kampus. Rasa malu yang masih tergambar karena berkumpul dengan orang baru membuat perkenalan ini menjadi komunikasi satu arah layaknya dosen yang hanya menjelaskan tanpa ada tanggapan. “Akbar, apa makanan khas dari kota mu?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari dosenku. “emm makanan khas dari Wonosobo ada tempe kemul, mie ongklok, dan buah carica” jawabku sekenanya. Yah memang ketiga makanan itu yang menjadi andalanku ketika ditanya masalah makanan khas dari kotaku. Renyah dan gurihnya tempe kemul bersama dengan teh hangat kala sore hari menjadi menu wajib berkumpul dengan keluarga.

Aku mulai beradaptasi dengan lingkungan kampus yang baru dimana suasana kota Semarang yang panas di bandingkan dengan di kampung serta transformasi bahasa dari ngapak ke bahasa semarangan (fiuuh itu membuatku sedikit canggung). Semarang yang dijuluki kota atlas (Aman, tertib,lancar,asri,dan sehat) ini sepertinya sudah mulai bergeser menjadi kota yang sering mengalami kemacetan karena padatnya penduduk disana. Rasanya 3 tahun aku di Semarang membuatku merasa nyaman berada di kota ini, bahkan aku dulu bercita-cita untuk bisa bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit milik pemerintah yang sudah terakreditasi internasional di Semarang RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Semasa kuliah rumahku menjadi rumah yang paling sering di kunjungi teman-teman diwaktu liburan. Mereka yang sering datang kerumah beralasan karena suasana di Wonosobo dingin, sejuk, dan nyaman untuk menenangkan diri sewaktu liburan. Aku kerap menjadi tour guide mereka ketika datang ke rumah, diawali pagi dengan teh hangat berpadu tempe kemul kami mulai berdiskusi kemana akan berwisata hari itu. Jendela yang berlatar gunung Sindoro dan gunung Sumbing mengacaukan diskusi kami karena matahari yang merekah diantaranya, tak pelak kamera handphone mereka mulai mengabadikan moment ini. Pukul 10.00 kami mulai perjalanan ke candi Dieng yang memiliki 8 candi dalam satu kawasan, suasana mendung agaknya sedikit menolong kami dari panasnya matahari yang menyengat. Beberapa jam disana kami kemudian melanjutkan perjalanan ke kawah Sikidang, kawah ini pada waktu tertentu (biasanya 4 tahun sekali) akan berpindah atau melompat dalam satu kawasan. Inilah mengapa kawah ini disebut kawah Sikidang seperti karakter Kidang (Kijang dalam bahasa jawa) yang suka melompat.

Rintik hujan mulai membasahi jaket kami, adzan dzuhur pun terdengar sehingga kami melakukan shalat sekaligus berteduh dari hujan yang cukup deras. Usai shalat rasanya ada bunyi dalam perut kami, ya ternyata kami mulai merasa lapar sehingga kami menyebrang ke tempat makan untuk makan siang. Mie ongklok lah yang menjadi menu santapan siang ini, dalam dingin kabut dan deras hujan suhu saat itu 14° sehingga dalam sekejap teh panas yang kami pesan menjadi tak panas lagi. “Apa itu mie ongklok?” terdengar lirih suara teman di telingaku. “Mie yang diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai, kemudian mie direbus dicelupkan secara berulang dalam air mendidih menggunakan bantuan anyaman bambu kecil bernama ongklok, setelah itu nanti diguyur kuah, nah kuah ini yang bikin beda, cuma ada di Wonosobo deh, nanti ketika makan bisa dengan sate atau tempe kemul” jawabku sekenanya.

Hujan mulai reda, kami lanjutkan ke wisata terakhir yaitu Telaga Warna. Keunikan fenomena alam yang terjadi di tempat ini, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna-warni seperti pelangi. Hal ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna-warni. “Tempat ini menjadi spot fotografi yang bagus untuk nanti bisa di pamerkan pada teman-taman kampus yang tidak ikut” temanku menimpal. Terdengar pengamen yang bernyanyi “no women no cry” punya Bob Marley, kamipun menghampiri dan bernyanyi bersama sampai kira-kira waktu ashar tiba. “Ah itu moment yang tak terlupakan”

Kami bersiap untuk mendaki bukit Sikunir yang memiliki golden sunrise sore ini. Dalam dingin malam kami mulai naik ke bukit dan mendirikan tenda disana. Shalat subuh menjadi awal pagi hari kami, berharap sebentar lagi Tuhan menunjukkan kuasaNya dalam penciptaan yang amat indah. Benar saja kami bisa melihat golden sunrise disini.

Perjalanan sebagai tour guide teman kampus menjadi salah satu strategiku dalam menunjukkan indahnya kota ku. Tak lupa juga aku kenalkan ritual pemotongan rambut gembel yang masih banyak terdapat di masyarakat atau biasanya ada dalam acara Dieng Culture Festival yang digelar tiap tahun.

Jakarta, menjadi tempat selanjutnya yang aku singgahi setelah aku menempuh pendidikan di Semarang selama 3 tahun. Kota metropolitan nomor satu di Indonesia ini menjadi tempat belajarku menempa kehidupan nyata. Biaya hidup yang mahal, kemacetan terjadi dimana-mana, dan kultur manusia yang berasal dari berbagai tempat rasanya asing dan susah bagiku untuk menerimannya. Mungkin disinilah tempat survive yang paling tepat untuk para pemula sepertiku. Sembilan bulan aku berada disini dalam kota yang super sibuk. Mau tak mau aku harus menjalani kehidupanku disini, bertarung dengan rasa tak nyaman harus ku lakukan demi pembelajaran untuk masa depan.

Bandung adalah tempat selanjutnya yang aku singgahi setelah 9 bulan aku di Jakarta. Suasana dingin dan sejuk mengingatkanku dengan kampung halaman Wonosobo. Cafe yang berjejeran di pinggiran jalan menunjukkan tingkat konsumtif akan kuliner masyarakat disini sangat tinggi. Akan amat rugi jika berkunjung ke Bandung tidak menjajali kulinernya satu persatu. Terlebih wisata alam yang berada di pinggiran Bandung menambah istimewanya kota ini. Banyak kajian Islam disini yang membuat waktu luang kita bisa bermanfaat seperti Aa gym dan majelis Pemuda Hijrah yang mana selalu memenuhi masjid dengan seluruh muda-mudi Bandung. Masih banyak lagi kajian Islam disini yang bahkan membuatku bingung untuk mengikuti yang mana.


Indahnya kota lain tak membuat mata dan batinku buta dengan kotaku sendiri. Aku tetap merasa rindu dengan suasana di kampung halamanku, bukan hanya karena suasana dan indahnya kota tetapi juga ada dua malaikat yang membesarkanku disana. Memang Wonosobo yang berjuluk “Negeri diatas Awan” ini menjadi tempat terindah untuk menua dengan segala macam keindahannya. Meskipun saat ini hanya bisa pulang mungkin setiap 3 bulan tapi semoga kelak masih ada waktu untuk bisa menikmati hidup disana. 

Minggu, 08 Januari 2017

Kesederhanaan dari Ibu dan Bapak


Hari sabtu adalah hari yang selalu kugunakan untuk bersih-bersih kamar kos di setiap minggunya. Tak terlewatkan pula tas lusuh yang kubeli sewaktu kuliah dulu dari acara sapu bersih ini. Kutemukan satu gambar yang tercetak dalam foto dimana aku sedang bermain digendong bapak, dengan senyuman dan kumis tipis yang bapak punya kala itu seakan tak ada kebahagiaan lain selain bisa bermain dengan anak pertamanya. Foto hitam putih yang penuh warna itu selalu bisa membuatku berkaca-kaca ketika menatapnya. Seakan saat ini aku kehilangan masa dimana aku bisa tertawa lepas dengan bapak, ya karena sekarang aku yang sudah mulai bekerja di luar kota maka waktu dengan keluarga harus sedikit tergadaikan.

Bapak adalah seorang guru lulusan SPK di Sekolah Dasar, sebuah desa yang terletak 20km dari kabupaten Wonosobo. Delapan tahun bapak mengabdi menjadi tenaga honorer yang mana harus berjalan kaki sejauh 4km dari transit angkutan terakhir menuju tempat bekerjanya. Keteguhan hati beliau untuk mengabdi kepada negara dan tentu agama sebagai guru mengalahkan jarak yang harus ia tempuh dan sunyi yang menemani dalam gelap dimana saat itu kala tahun 1990-1998 handphone hanya kaum borjuis yang memiliki bahkan listrik pun masih dalam harapan untuk bisa menerangi desa disana.

Sedangkan ibu adalah kembang desa dimana terlahir dari keluarga yang amat sederhana, keluarga yang lebih mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Ibu adalah seorang lulusan sekolah menengah atas di kabupaten Wonosobo. Dikala banyak yang lebih memilih membeli motor atau mempercantik rumah, saat itu mbah lebih memilih untuk berjuang agar anaknya bisa merasakan pendidikan setinggi-tingginya meski hanya sampai menengah atas. Patut menjadi contoh ketika sebuah keluarga mampu membiayai keempat anaknya sampai menengah atas yang saat itu banyak orang tak mampu bahkan tak mau untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Aku, bapak, ibu, dan adik tinggal dalam sebuah rumah sempit berukuran 5x6 meter di antara bangunan di SD yang bapak ajar. Sebuah rumah dinas yang digunakan bagi guru yang berasal dari luar daerah Wonosobo. Disana aku dibesarkan, di sebuah desa yang perjalanan dari terminal kabupaten sampai desa ku menempuh 2 jam perjalanan. Yah memang selama itu perjalanannya karena transportasi yang masih susah hanya ada beberapa bus mini yang setiap 5km berhenti untuk mangkal menunggu penumpang dan ditambah lagi track pegunungan yang berbelok-belok naik turun membuat semakin memakan waktu. Pernah suatu ketika aku dibuat tertawa oleh teman kuliah yang mempertanyakan apakah desa ini masih masuk Indonesia karena suasana pegunungan yang amat dingin dan jarak yang teramat jauh dari pusat kabupaten. “Lihatlah anak desa ini yang tak kalah semangat denganmu anak kota dalam menggapai masa depan” bisikku dalam hati.

Aku sangat bersyukur melewati masa kecil di sebuah pelosok desa ini, banyak pelajaran yang bisa diambil disini. Jika aku berani bertaruh mungkin aku menjadi anak kecil yang paling bahagia karena banyak orang yang selalu mengajakku bermain. Desa ku masih menggunakan kalender jawa yang mana pada setiap pahing dan wage terdapat pusat perbelanjaan yang menjual apapun disana mulai dari pakaian, sayur-mayur, perkakas, bahkan bahan bangunan pun ada. Memang pasar tersebut adalah pasar yang menopang perekonomian beberapa kelurahan di kecamatan kami. Aku masih ingat dimana setiap selesai pasar pukul 12.00 aku selalu diajak bermain seorang kuli pasar ke rumahnya dan nanti ketika sore hari nanti ibu akan datang untuk menjemputku. Tak jarang aku juga dibawa pulang oleh pedagang bahan bangunan dipasar untuk bermain di rumahnya.

Waktu silih berganti, tiba saatnya aku memasuki dunia sekolah. Mungkin jika teman-teman berada di kota maka tahapan sekolah pertama adalah TK atau bahkan playgroup, tapi aku yang kala itu di sebuah pelosok desa maka bapak memasukkanku langsung ke tahap SD dan aku dengan terpaksa harus mengulang 1 tahun di kelas satu sebagai pengganti masa di TK. Bapak yang kala itu sebagai guru di SD tersebut membuat masa-masa pendidikan di SD berjalan lancar bahkan aku tak pernah lepas dari peringkat 2 besar. Bapak adalah seorang yang keras dan disiplin dalam mendidik anak, tak jarang dalam belajar yang bapak jadwalkan setiap hari setelah shalat isya aku keluarkan jurus tangisan untuk meredam bentakan bahkan tamparan dari bapak. Hal yang bapak lakukan itu bukanlah sebuah pelanggaran HAM yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan tetapi sebuah tanggung jawab seorang bapak yang ingin anaknya sukses dengan pendidikan langsung darinya.

Memasuki masa SMP bapak pernah di sarankan oleh beberapa temannya bahwa aku lebih baik di sekolahkan menengah pertama di kabupaten saja yang mungkin jauh lebih baik bukan di desa. Bukan bapak tak mampu mensekolahkan aku di kabupaten tapi bapak masih berprinsip untuk mau mendidik dan mengontrol belajarku sehingga aku tetap melanjutkan masa sekolah menengah pertama di desa yang sama dengan masa SD. Bapak adalah seorang yang tau tentang kelemahanku yang harus di kuatkan dan kekuatanku yang harus ditingkatkan dalam pelajaran. Bapak tau aku suka dengan matematika dan lemah dalam bahasa inggris, sehingga aku disarankan untuk menambah jam belajarku dengan teman bapak seorang guru SMP di lain sekolahku. Teringat ketika bapak masuk kamarku untuk meminjam pensil tergeletak soal try out ujian matematika di meja belajar yang ia lihat. Bapak kemudian memanggilku dan membahas semalaman soal matematika yang saat itu aku salah dalam memilih jawaban. “Andai engkau tak mengingatkanku, maka anakmu ini kehilangan 2,5 poin dari 40 soal matematika. Terimakasih bapak.”

Ibu adalah seorang yang luar biasa bagiku, ia sebagai seorang yang melembutkan suasana hatiku dari kerasnya sifat bapak. Ibu yang setiap hari berjualan jajanan di SD yang bapak ajar menjadikan ibu menjadi manusia super sibuk dalam keluarga. Setiap hari ibu bangun jam 4 pagi untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya dan nasi goreng, soto, aneka macam gorengan yang akan ia jual. Tak lupa tugas beliau setiap pagi adalah membangunkan suami dan anaknya untuk shalat subuh. Tugasku setiap hari adalah membawa jajanan yang ibu buat dari rumah ke tempat dimana terdapat dua buah meja untuk ibu berjualan sekaligus menyiapkan aneka jajanan warungnya. Tak jarang ia sampai pukul 10 malam untuk menyiapkan bumbu atau adonan yang akan ia gunakan untuk masak esok pagi. Ibu sebenarnya tak perlu untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarga, dengan mengandalkan pendapatan bapak pun masih bisa untuk bertahan hidup. Tapi ibu tetap dengan pendiriannya mencari aktivitas yang bermanfaat dan membantu bapak menyiapkan tabungan bagi pendidikan anaknya kelak.

Aku sempat marah ketika bapak yang janji akan membelikanku sepeda motor dan laptop ketika masuk SMA tak kunjung di tepati. Saat itu aku belum berfikir tentang kemungkinan orang tua yang sedang banyak kebutuhan sehingga kebutuhan anak yang dirasa belum terlalu menjadi prioritas harus di korbankan. Aku mencoba menikmati kehidupan yang kupunya dimana banyak dari temanku yang sudah bisa menenteng laptop disela pergantian kelas di sekolah dan aku yang masih harus bergelantungan dipintu bus mini setiap sabtu sore pulang dari kos karena harus berdesakan dengan penumpang lain ketika banyak dari teman bermain gas dengan  motor kesayangannya. Bapak rela menanggung kemarahan anaknya demi sebuah pelajaran berharga yang kelak tak tau kapan anaknya baru mengerti pelajaran itu.

Entah alasan apa yang mendasari bapak dan ibu untuk tidak segera membuat rumah sendiri dan memilih untuk tetap tinggal di rumah dinas. Bapak baru mulai membangun rumah ketika aku masuk kelas 3 SMA dan harus tertunda 3 tahun karena untuk biaya aku kuliah di D3 Keperawatan. Bapak lebih memilih pendidikan anaknya sebagai prioritas pertama meskipun pendidikan yang di tempuh di masa kuliah bukan menjadi pilihan dari anaknya. Aku sekali lagi harus menerima keputusan dimana aku harus belajar di bidang yang bukan aku senangi, hanya ibu yang saat itu bisa menguatkanku dari beratnya keputusan bapak yang harus aku jalani. “Bapak memutuskan itu dengan pertimbangan yang panjang untuk kehidupanmu kelak, berdoa mohon petunjuk kepada Allah” kata ibu menenangkanku. Cukup lama aku mengiyakan keputusan bapak ini dan akhirnya akupun dengan mantap masuk ke dunia perkuliahan dengan restu bapak dan ibu.

Aku bisa melihat raut kebahagiaan bapak dan ibu ketika aku mampu menjadi sambutan wisudawan dan pengumuman aku diterima kerja sehari sebelum wisuda. Kekhawatiran beliau sudah terkurangi dengan anaknya yang mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda. Ada tangis kebahagiaan dari seorang anak yang selama ini dididik dari keluarga yang sederhana ini. Bapak ibu pun turut mengantarkanku sampai ke terminal keberangkatan ketika aku akan berangkat ke Jakarta untuk bekerja di sebuah rumah sakit Internasional. Meskipun dari SMA aku sudah terbiasa hidup sendiri di kos, perjalanan baru ke Jakarta untuk merantau bekerjapun serasa berat sekali. “Kamu harus mulai menanggung tanggung jawab sendiri, menanggung segala resiko yang akan kamu jalani, dan berceritalah nak ketika kau tak mampu. Aku akan membantumu meski hanya sebuah saran” tersirat pesan dari tatapan bapak terakhir.

Baru satu bulan yang lalu aku pulang ke rumah di Wonosobo, Jawa Tengah. Aku pulang bukan karena ingin merasakan dingin dan sejuknya suasana disana tetapi ingin merasakan hangatnya suasana didalam rumah. Hangat ketika tempe kemul khas Wonosobo yang baru diangkat dari wajan penggorengan dipadukan dengan teh madu buatan ibu menemani obrolan malam ba’da maghrib. Tak ada kesedihan disana hanya ada tawa, harapan, dan kebahagiaan dari kami satu keluarga. Memang sengaja aku pulang setelah 6 bulan berada di Bandung untuk merasakan belenggu rindu akan hangat rumah.

Aku merasakan kasarnya telapak tangan bapak dan ibu ketika kucium punggung telapak tangan mereka. Tak ada kegembiraan yang luar biasa selain melihat raut wajah bahagia orang tua yang menyambut anaknya pulang. Tak habis obrolan semalaman, tak pula habis bahan diskusi dengan bapak ibu, dan satu hal yang selalu buat kami tertawa adalah ketika aku mulai menyentil tentang permintaan menikah. Kadang aku diajak diskusi untuk menentukan masa depan pendidikan adikku, bapak dan ibu adalah orang yang selalu khawatir akan pendidikan anaknya dan masa ini aku mulai merasakan kegelisahan mereka.

Banyak hal yang menjadikan mata ini serasa ingin meneteskan air mata. Ketika ibu mengusap peluh lelah sehabis mencuci pakaian atau ketika bapak harus mual muntah karena masuk angin setelah terguyur dinginnya air hujan saat perjalanan menggunakan motor. Aku tau ibu mampu membeli mesin cuci untuk mencuci pakaian yang menggunung dan aku pun tau bapak mampu membeli mobil agar tak selalu kehujanan dan kepanasan. Tapi beliau memilih untuk tidak membelinya, “toh masih bisa nyuci sendiri, toh masih ada jas hujan jika kehujanan” ujar beliau. Dalam usia yang menginjak dewasa ini aku kembali ditampar beliau, ketika anaknya berusaha mencari hidup yang layak (berlindung dari kata kekayaan) justru orang tuanya masih bertahan dalam kehidupan dalam kesederhanaan. Dalih “hidup itu asal cukup” tak mampu menggoyahkan kekhawatiran manusia akan kecukupan kehidupan material di dunia.

Aku harus kembali berangkat merantau untuk mencari pelajaran dari seluruh apa yang kulihat dan kudengar. Kembali aku harus merasakan dinginnya kesendirian tanpa nasihat dari bapak atau ibu. Anak pelosok desa ini berjanji akan membuat engkau bangga pak bu. Aku bahkan tak tau bagaimana membalas semua hal yang telah kau berikan padaku. Aku hanya ingin membuat engkau selalu tersenyum dan bangga ketika melihat anakmu, ketika bersua dalam telephon, atau bahkan ketika engkau mendengar kabarku dari orang lain.

Caraku berbakti kepadamu adalah dengan kuselipkan doa disetiap akhir shalatku.  Aku ingin menjadi anak yang berbakti kepadamu. Terimakasih engkau telah menunjukkan ku arti perjuangan hidup dimana engkau rela bekerja keras dan menggadaikan semua inginmu demi pendidikan yang layak bagi anakmu. Terimakasih telah kau tunjukkan arti kesederhanaan dalam hidup dimana banyak orang yang tergila-gila mengejar dunia engkau masih memilih hidup dalam kesederhanaan. Semoga anakmu ini bisa menjadi anak yang selalu engkau banggakan, selalu kau sebut dalam doamu, dan kelak bisa menjadi cahaya dalam kehidupan setelah dunia ini.

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku diwaktu kecil” (QS Al-Isra; 24)”.


Salam rindu dari anakmu,

Jumat, 06 Januari 2017

Terompet, Dakwah, dan Indahnya Silaturahim



Gemerlap kembang api menghidupkan langit Bandung yang berlatar gelap malam ini. Suara terompet menyambut tahun baru 2017 pun amat sering terdengar di setiap jalan yang saya lalui. Terlihat beberapa anak kecil dengan cerianya saling berkumpul meniup terompet yang baru mereka beli malam itu. Memang banyak sekali pedagang yang memanfaatkan berjualan terompet ataupun kembang api di awal tahun baru ini sebagai ladang mereka mencari nafkah. Mungkin mereka berjualan untuk satu hari saja di tanggal 1 Januari namun bisa saja mereka mampu meraup keuntungan yang bisa untuk makan anak dan istrinya beberapa hari.

Banyak sekali perdebatan yang terjadi di beberapa sosial media tentang perayaan tahun baru ini yang mana Islam tidak mengajarkan umatnya untuk merayakan pergantian tahun. Islam hanya mengenal hari yang patut dirayakan yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Saya saat itu pun lebih memilih mengasingkan diri dari riuhnya suasana menjelang pergantian tahun. Hari sabtu tanggal 31 Desember sengaja saya habiskan waktu pagi diatas kasur dengan ditemani target yang harus saya capai yaitu menyelesaikan satu buku bacaan. Entah apa yang terjadi saya tenggelam dalam buku itu. “Iyalah tenggelam orang nggak bisa berenang”

Pukul 14.00 saya bersiap untuk pergi ke Masjid Agung Trans Studio Bandung untuk mengikuti kajian bersama Ust. Salim A Fillah, ya dia masuk dalam salah satu Ustadz favorit saya. Bukan karena ustadz ini gagah, tinggi dan besar tapi karena ilmu tentang sejarah beliau dan pengolahan kata dalam penyampaian yang membuat saya terkesan. Saat itu kajian dimulai agak sore karena memang jalan yang sedikit padat membuat Ustadz sedikit terlambat. Kajian yang mundur beberapa jam tak membuat para manusia yang haus ilmu mengurungkan niat, toh masih bisa melakukan hal yang bermanfaat seperti membaca Al Quran atau membuka sosial media seperti instagram dan facebook. Banyak orang berfikir negatif terhadap sosial media yang mana mereka beranggapan sosial media berdampak menjadi anti sosial dll. Padahal seperti itu tergantung si operator handphone nya, banyak hal yang bermanfaat di sosial media apabila kita perhatikan. Banyak tulisan kajian, video kajian, bahkan banyak video para anak muda yang melantunkan ayat suci dengan indahnya.

Saat itu saya memilih untuk membuka Al Quran dan mulai membaca surat favorit saya yaitu Ar-Rahman. Entah apa yang membuat saya suka dengan surat ini, mungkin banyak Qari’ yang membaca surat ini dengan sangat merdu tapi memang isi dari surat ini sangat mendalam. Terdapat pengulangan ayat yang artinya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”sebanyak 31 kali. Dari ayat tersebut Allah ingin menegaskan bahwa nikmat yang telah diberikanNya pada kita amatlah besar sehingga sudah pasti kita takkan bisa mendustakan nikmat yang telah diberikan dan hal tersebut memaksa bibir untuk mengucap syukur.

Pukul 16.30 pun tausyiah dimulai, dari tausyiah beliau banyak menyinggung tentang perjuangan Rasulullah, bercerita tentang nabi Ibrahim, nabi Yunus, nabi Yusuf, dan masih banyak lagi. Ini sebenarnya yang saya suka dari beliau Ust. Salim, dapat dengan lugas bercerita sejarah tentang perjuangan umat terdahulu yang mampu mencibir kami dengan perbandingan perjuangan umat sekarang dan terdahulu. Satu pernyataan beliau yang amat membekas adalah “kita sebagai umat muslim tugas kita adalah berdakwah di setiap sektor yang kita bisa, dan kita bisa menjadikan hobi, pekerjaan, pertemanan, dan lain sebagainya sebagai ladang dakwah”. Dakwah yang dimaksud diatas tak selalu seperti ustadz yang mana kita harus memberi tausyiah di hadapan khalayak ramai tapi kita bisa dakwah menggunakan cara kita sendiri. Sebagai anak muda kita masih bisa gaul dan masih bisa keren tapi tetap taat pada agama. Ketika berbicara konsep dakwah dikalangan anak muda pun dakwah yang dilakukan bisa menyesuaikan dengan lingkungannya asalkan tetap dalam koridor amar ma’ruf nahi mungkar yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pada zaman yang serba teknologi ini kita harus mampu melebur, kita bisa memanfaatkan teknologi dari sosial media kita misalnya dengan hanya mengganti foto profil di sosial media dengan sebuah ajakan kebaikan, atau dengan men-share beberapa kajian ataupun nasihat dari ulama. Hal kecil tapi syarat nilai. “mudah kan dakwah itu?”

Sepanjang tausyiah ini berlangsung diwarnai oleh serunya musik EDM yang karena diluar masjid adalah wahana bermain keluarga dan sebuah mall yang disana terdapat panggung dalam menyambut perayaan tahun baru. Sejatinya hidup memang banyak dihadapkan dengan berbagai macam pilihan, termasuk saat ini banyak anak muda yang memilih mengikuti tausyiah mengasingkan diri dari hedonisme dunia. Tak sedikit juga yang memilih untuk bersenang-senang merayakan pergantian tahun baru bersama teman, pacar, bahkan mungkin keluarga. Tidak salah ketika mereka memilih hal tersebut, toh mereka sendiri nantinya yang akan merasakan dampaknya apakah berdampak di kebaikan ataukah keburukan. Sekali lagi ini hanya masalah pilihan.

Pulang dari tausyiah saya sudah ditunggu oleh beberapa teman, memang liburan tahun baru yang panjang ini akan kami manfaatkan untuk silaturahim ke tempat teman dan mungkin akan dilanjutkan ke tempat wisata. Perjalanan dari kota Bandung menuju tempat teman di daerah Cikalong Bandung sekitar 2 jam perjalanan.”sepertinya saya akan mengulang memori 2 tahun silam dimana saya suka touring dekat dengan teman kuliah”. Sepulang dari sana pun pada tanggal 1 Januari 2017 saya berkunjung ke rumah teman saya lagi di daerah Cikoneng Bandung, disana karena berada di komplek perumahan maka saya sedikit mencuri pengetahuan tentang membeli rumah di perumahan. Dari jawaban teman saya yang kebanyakan disana menggunakan KPR membuat saya semakin ingin membeli rumah dengan cash, udah nggak ada fikiran bayar cicilan juga terhindar dari riba. Tidak tau besok seperti apa keadaannya, semoga Allah mengabulkan setiap yang kita inginkan. Aamin


Saya selalu percaya bahwa “Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan di banyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R Bukhari-Muslim). Indahnya silaturahim tergambar dalam hadits tersebut yang mana Allah telah menjamin nikmat yang diberikanNya ketika seseorang menyambung tali silaturahim. Saya kira dengan kita say hello kepada teman di bbm, instagram, facebok dan lain sebagainya itu sudah termasuk dalam silaturahim kok. Hal kecil tapi bisa sangat bermakna didalam kehidupan kita, makanya mari kita sambung silaturahim, mari kita dakwah dengan cara kita masing-masing, dan saatnya jadi pemuda yang siap membawa islam dimanapun ia berada.

Bandung, 07 Januari 2017
Akbar Wicaksono

Minggu, 01 Januari 2017

PILIHAN DALAM PERJUANGAN


“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum; 21)

Bandung, 23-12-16
Ku rebahkan badan setelah ku tunaikan kewajiban shalat isya malam ini. Serasa mata ini ingin sekali memejamkan kelopaknya kerana seharian bekerja. Air dalam dispenser segera kupanasi untuk membuat segelas teh madu yang akan menemaniku dalam penjelajahan buku yang akan kubaca malam ini. Entah mengapa buku yang kubeli akhir-akhir ini pembahasannya tak jauh dari percintaan dalam Islam. Buku yang kubaca ini sekaligus menjadi tamparan bagiku dimana aku pernah terjerumus dalam sebuah kata “Pacaran”. Tak perlu lah dijelaskan bagaimana pacaran itu seperti apa, semua orang sudah tau bahkan sudah bisa membandingkan bagaimana positif dan negatifnya pacaran itu.  Mungkin bagi para pelaku pacaran menganggap pacaran juga banyak positifnya, bisa saling mengingatkan entah belajar ataupun beribadah, saling support ketika salah seorang sedang low motivation, dan lain sebagainya. Tapi cobalah kita lihat tentang dampak yang di akibatkan oleh pacaran dari segi apapun termasuk dari segi agama. Jika ada penyataan “Itu semua kan tergantung sama orangnya bisa jaga hubungan atau tidak”, saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Kembali lagi pada fitrah nafsu yang melekat pada jiwa manusia, bukankah nafsu yang melekat pada jiwa itu sangat susah dijaga? Dan apakah kita yakin mampu menjaga nafsu kita? Itulah yang menjadi poin penting. “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra:32)
Segala hal yang pernah kita alami memang seharusnya jadi pembelajaran bagi kita untuk menjadi semakin lebih baik lagi. Bukan selalu menyesalkan akan semua yang telah terjadi akan tetapi bersegera memperbaiki dan menyiapkan diri untuk masa yang akan datang. Aku sendiri mencoba berusaha memperbaiki diri, move on dari kata pacaran dan mulai belajar untuk mempersiapkan aku yang nanti akan jadi pemimpin bagi keluargaku. Entah mengapa beberapa waktu ini banyak sekali inspirasi untuk menikah di usia muda baik di sosial media yang ku punya ataupun dari beberapa buku yang aku baca. Gairah itupun muncul dalam benakku yang seolah-olah memaksaku untuk mengikuti jejak mereka yaitu menikah di usia muda. Akan tetapi kembali aku tersadarkan bahwa menikah bukan hanya saling mengalungkan cincin pada jari manis pasangan, tapi saling mengikat komitmen untuk bersama-sama berjuang di dunia mencari jalan pulang ke surga dan mencurahkan ekspresi cinta dalam bingkai kehalalan. Begitu indahnya jika kita bayangkan tentang sebuah pernikahan, tentang mesra nya senda gurau suami istri, manisnya sambutan senyum disertai satu gelas teh hangat sepulang kerja, dan bahkan romantisnya ketika melihat suami menjadi imam seorang istri. “Ya Allah saat ini aku hanya bisa membayangkan manisnya pernikahan, semoga engkau percepat aku menuju indahnya pernikahan aamiin”.
Maka yang menjadi pilihanku sekarang adalah menyiapkan sebaik mungkin sebelum datang waktunya nanti aku bertemu dengan jodohku. “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS An-Nur 26). Tak ada seorang pun didunia ini yang menolak perempuan baik untuk menjadi pendamping di hidupnya. Maka sudah sepantasnya kita memantaskan diri agar bisa mendapatkan sesorang yang baik menurut Allah, kita berjuang memperbaiki diri sampai tiba saatnya nanti kita mendapati sebuah janji suci. Jika ada orang yang mengatakan “Jodoh kita adalah cerminan kita” maka kembali aku katakan aku sependapat akan hal itu. Aku sependapat karena hal tersebut sangat berkaitan dengan apa yang dijelaskan di Al Quran tadi surat An-Nur ayat 26 yaitu perempuan yang baik untuk lelaki yang baik begitupun sebaliknya.
“Kata Umar bin Khattab, salah satu hak calon anak kita yang harus kita tunaikan adalah dipilihkan ibu yang baik”. Setiap orang mempunyai persepsi masing-masing mengenai ibu yang baik itu seperti apa. Apapun persepsi itu ibu yang baik adalah ia yang mampu mendidik anak selalu dekat dengan Tuhannya dan yang mampu menjadi seseorang dibalik kesuksesan suami. “Sepertinya blusukan meniru gaya Presiden Jokowi demi mencari ibu yang baik harus kita coba. Hehe”
Aku teringat waktu pertama kali aku akan berangkat bekerja di Jakarta, kakekku pernah berpesan “Kamu hati-hati disana, karena lingkunganmu non muslim jangan cari jodoh perempuan non muslim”. Sontak hal itu membuatku tertawa karena melihat seorang kakek yang sedang cemas mengenai jodoh dari cucunya. Hal ini sejalan dengan hadist “Wanita dinikahi karena 4 hal: Karena hartanya, karena kedudukannya, karena cantiknya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang baik agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian niscaya kamu merugi.” (HR. Bukhari-Muslim). Pernyataan kakek secara tidak langsung amat mendalam berharap cucunya tidak merugi dalam hidupnya dan juga mengikuti ajaran rasul Muhammad SAW dalam pemilihan seorang wanita unruk dijadikan seorang istri.
Seringkali mata ini dibuat terkagum-kagum seolah tak mau berkedip apabila melihat seorang wanita berparas cantik dengan jilbab yang menjulur menutupi badannya. Rasanya tak mampu diri ini menundukkan pandangan dan tak terasa bibir ini berucap masyaAllah dengan spontan. Kembali aku teringat “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari-Muslim). Hadist tersebut menjelaskan kepada kalian yang sudah mampu maka menikahlah dan mampu tidak akan bisa diukur oleh orang lain. Kita sendiri yang bisa menilai apakah kita sudah mampu atau belum mengemban amanah pernikahan. Jika mampu diukur dari segi materi maka Allah memperjelas lagi dalam QS. An-Nur ayat 32 “...Jika mereka miskin niscaya Allah akan memampukan mereka (menjadikan mereka kaya) dengan karunia-Nya...”.

Sudah jelas terlihat akan indahnya pernikahan dan merayakan cinta dalam kehalalan. Allah pun sudah menjamin akan dibukakan pintu rezeki lebih bagi yang mau menikah. Tapi kembali lagi bahwa itu semua adalah pilihan kita masing-masing antara menikah dengan segera atau bersabar dalam menunggu pernikahan. Aku sendiri masih memilih bersabar dalam menunggu pernikahan. Aku harus berjuang menundukkan pandangan dan harus mampu menjadikan puasa sebagai perisai dalam derasnya nafsu. Aku selalu kagum terhadap mereka yang memilih menikah untuk menjaga pandangan dan kemaluan. Apapun itu, pilihan yang kita buat adalah untuk diri kita sendiri dan menjadikan kita lebih baik lagi. Semangat untuk menjadi lebih baik lagi harus selalu kita genggam erat dan harus kita bawa kapanpun dan dimanapun kita berada. Semoga semua pilihan yang kita pilih benar-benar baik dimata diri kita sendiri dan Allah. Aamin

Minggu, 18 Desember 2016

AL QURAN SEBAGAI PENGGERAK HATI



“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Ayat tersebut sangat luar biasa maknanya bagi seluruh umat muslim di Indonesia, dari orang yang fasih dalam pembacaan Al Quran sampai orang yang mungkin belum bisa membaca Al Quran. Semua orang teralihkan untuk mencari tahu ada apa dengan ayat ini, bahkan saya pun sedikit mencuri waktu disela istirahat kerja untuk sedikit belajar tentang Surat Al Maidah 51. Dan memang luarbiasa kandungan yang tertera dalam ayat ini, bagaimana islam mengatur dalam pemilihan pemimpin yang sesuai dengan aqidahnya. Tapi anggapan atau opini setiap orang berbeda tentang memaknai pemimpin yang baik itu seperti apa, akan sama pemikiran jika umat muslim berorientasi pada kehidupan akhirat yang mana kita harus memilih pemimpin sesuai dengan aqidah kita dan berpedoman pada Al Quran.

Tak pelak jika umat muslim ini berlindung pada surat Al-Maidah 51 dalam pemilihan pemimpin karena memang seperti itulah yang diatur dalam pedoman hidup seorang muslim yaitu Al Quran. Betapa terkejutnya ketika saya melihat salah satu teman yang men-share video tentang Gubernur Jakarta yang berpidato di Kepulauan Seribu itu, dalam video-nya terdapat kalimat “jangan mau dibohongin dengan surat Al Maidah 51”, hal itu sontak memacu adrenalin saya, saya sebagai seorang muslim tidak bisa menerima bahwa apa yang tertulis di pedoman hidup saya dianggap alat untuk membohongi. Bapak Gubernur ini benar-benar menyulut emosi umat muslim di Indonesia dan mengusik kedamaian umat beragama yang selama ini bisa terjaga. Banyak pengguna media sosial saling men-share pemberitaan tersebut, tak sampai 8 jam berita ini sudah menjadi trending topic di dunia maya. Media televisi, elektronik, bahkan cetak pun ramai dengan tagline “Penista Agama” dalam beberapa hari yang menjadikan topik pembicaraan dimanapun tempat saya berada.

Semakin ramai pembahasan akan masalah penistaan agama ini, banyak yang pro kontra mengenai hal tersebut apakah masuk dalam penistaan agama atau tidak. Bahkan sesama muslim pun banyak yang berbeda pendapat, banyak dari mereka yang beranggapan bahwa pernyataan Gubernur Jakarta ini tidak mengandung penistaan agama. Memang seperti itulah hidup dimana setiap orang mempunyai opini nya masing-masing, tetapi opini yang dihasilkan dari pengkajian yang mendalam berdasar ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dugaan penistaan agama ini langsung direspon oleh beberapa ormas islam, bahkan MUI pun mengeluarkan fatwa bahwa hal tersebut masuk dalam lingkaran penistaan agama. Sontak banyak pihak yang mulai melaporkan penistaan agama tersebut ke kepolisian agar bisa di tindak secara hukum. Semakin ramai pembicaraan yang berkonten penistaan agama di manapun tempatnya dan masyarakat masih menunggu respon dari kepolisian untuk bisa ditindak dengan cepat. Akan tetapi pada akhirnya masyarakat masih kurang puas dengan kinerja yang dianggap lambat dari kepolisian, masyarakat ingin mengingatkan bahwa ini adalah masalah yang serius. Masalah yang amat sensitif karena menyangkut kepercayaan dan keyakinan umat muslim yang diganggu.

Terdengar santer bahwa akan ada aksi demonstrasi pada tanggal 4 November untuk menuntut kasus dugaan penistaan agama ini, masyarakat ingin ketajaman hukum dimana siapapun yang melakukan kesalahan baik orang yang punya jabatan sampai masyarakat sipil harus ditindak secara hukum. Kami sebagai muslim meyakini bahwa suatu saat nanti pengadilan Allah lah yang paling adil, dan ketika Bapak Gubernur meminta maaf pun kami sudah memaafkan. Akan tetapi kembali lagi bahwa Indonesia adalah negara hukum, jika setiap orang yang menista agama tidak ditindak secara hukum maka di khawatirkan nanti akan terjadi hal sedemikian rupa lagi.

Aksi demo bela islam II ini terkenal dengan aksi 411, serentak terjadi di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, Medan, Malang, Makassar, dll. Semua elemen masyarakat berkumpul untuk bersama-sama menyuarakan aspirasi mereka mengenai penistaan agama ini. Ribuan bahkan ratusan ribu umat muslim memadati jantung kota mereka, mereka melakukan aksi damai longmarch membawa pesan bahwa kepolisian harus segera memproses dan menahan si penista agama.

Pagi hari pada tanggal 3 november sebelum berangkat kerja saya sempatkan membaca berita di salah satu portal elektronik yang menyebutkan bahwa pemerintah melalui Kemkominfo memblokir 11 situs web yang dianggap menyebabkan sentimen SARA. Salah satu situs yang diblokir adalah smstauhiid.com milik Abdullah Gymnastiar. Saya sendiri merasa ada yang ganjil dengan pemblokiran ini, situs tersebut bukanlah situs yang menebarkan sara melainkan mengajak orang untuk dekat kepada Allah. Jika Menkominfo beranggapan situs tersebut menyebabkan isu sara maka perlu dilihat dan dikaji kembali mengenai konten yang dipublikasikan situs tersebut.

Siang itu hari jumat tanggal 4 November saya melewati jalan Ir.H.Juanda Bandung, terlihat banyak aparat kepolisian di pinggir jalan. “Kang ini ada acara apa ya kok banyak polisi dan jalur di alihkan?” tanya saya pada penjual buah, “Ada demo kang, umat muslim yang demo penistaan agama” jawabnya. Sengaja saya parkir motor saya di pinggir jalan untuk sekedar melihat perjuangan dan semangat saudara muslimku untuk pembelaan Al Quran yang telah di nistakan. Betapa terkejutnya saya melihat ribuan orang melakukan longmarch dari PUSDAI sampai ke Gedung Merdeka di Jl. Asia Afrika. Bagaimana mungkin orang mau membuang waktu pada jam kerja untuk melakukan demo? Berjalan sejauh 3km ditengah teriknya matahari? Ini dia yang tidak masuk di akal, tapi masuk di hati. Orang tidak akan pernah memahami perjuangan yang dilakukan ini jika memang hatinya tidak terbuka, tidak merasakan apa yang di rasakan umat muslim ketika pedoman hidupnya di tuduh menjadi alat pembohong dalam pemilihan pemimpin.

Saya hanya bisa mengikuti perkembangan aksi ini dari berita yang berada dalam layar  kaca handphone saya. Sebelumnya aksi 411 ini memang sudah ditekankan oleh ketua GNPF-MUI Ust.Bachtiar Nasir dan ketua FPI M.Rizieq Syihab bahwa aksi ini akan berjalan damai tanpa anarkis. Aksi di Jakarta berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Bundaran Bank Indonesia, dan Istana Kepresidenan. Banyak umat muslim yang datang dari luar kota ke Jakarta untuk ikut dalam aksi ini, mereka sudah berada di Masjid Istiqlal dan memenuhi setiap shaf saat shalat subuh. Masjid Istiqlal yang berkapasitas 200.000 pun tak mampu untuk menampung umat yang sedemikian banyak ini. Kembali lagi pada masalah hati lah yang mampu menggerakkan umat yang sangat banyak ini, bukan politik bahkan ekonomi semata.

Jakarta berubah menjadi “lautan putih” oleh demonstran yang kebanyakan memakai pakaian putih sebagai identitas mereka. Beberapa toko yang berada di sekitar aksi pun mendadak tutup mangantisipasi akan terjadi hal di luar perkiraan. Kantor pusat saya pun yang berada di Senayan mendadak di pulangkan setengah hari karena mobilitas karyawan yang terganggu. Sungguh sangat berdampak luas akan aksi damai ini dan menunjukkan bahwa Aksi Bela Islam II adalah aksi yang amat serius dari masyarakat mengenai pembelaan mereka terhadap Al Quran yang telah di nistakan. Banyak elemen mengambil bagian dalam Aksi Bela Islam ini seperti para pengusaha air minum yang mendonasikan air mineral untuk peserta aksi, pengusaha sound system agar suara orasi menggelegar dan mampu di dengar semua peserta, bahkan masyarakat biasa pun berlomba-lomba memberikan apa yang mereka punya seperti makanan untuk para peserta aksi. Aa Gym sendiri beserta ribuan santrinya khusus mengambil bagian bersih-bersih dengan sapu dan kantong plastik yang mereka bawa. Sungguh indahnya melihat hal semacam ini yang mana umat muslim menunjukkan kualitas akhlak mereka saling tolong-menolong.

Berdasarkan kronologi kejadian dari GNPFMUI usai shalat jumat di Masjid Istiqlal semua peserta demo melakukan longmarch menuju istana, dan dilanjutkan orasi didepan Istana secara bergantian oleh beberapa elemen yang ada. Perwakilan aksi bela islam mengutus ust. Bachtiar Nasir dan KH. M. Zaitun Razmin untuk menjadi juru runding dengan pihak istana, akan tetapi juru runding tersebut menolak bertemu karena hanya akan ditemui oleh Menkopolhukam dan beberapa utusan resmi dari Presiden. Dua kali menolak kemudian Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya menawarkan pada juru runding bahwa akan ditemui oleh Bapak Wapres RI dan dari pertemuan dengan juru runding mendapat keputusan bahwa Wapres RI memberikan jaminan akan memproses dengan cepat dan transparan serta meminta waktu selama 2 minggu untuk merealisasikannya.

Massa yang seharusnya menurut protap pada pukul 18.00 harus sudah selesai belum juga membubarkan diri karena masih berlangsungnya pertemuan juru runding dan Wapres RI. Para peserta aksi mulai terprovokasi tindakan represif dari Polri yang menyebabkan adanya kericuhan kecil, agar tidak terjadi bentrok yang tidak di inginkan maka FPI menjadi pagar antara Polri dan peserta yang terprovokasi. FPI tetap konsisten membawa misi aksi damai sehingga sebisa mungkin tetap menjaga saudara muslim yang sudah terprovokasi. Hal yang di sesalkan adalah Polri melakukan tindakan represif untuk membubarkan para peserta aksi dengan melakukan dorongan, gas air mata, dan peluru karet yang menyebabkan kondisi semakin tak terkendali. Kapolda pun turun tangan mencoba untuk menghentikan tembakan peluru karet dan gas airmata, akan tetapi sudah ada satu korban jiwa dari peserta aksi yang meninggal dunia karena asma. Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Dini hari Komisi 3 DPR menerima delegasi dari GNPFMUI pada pukul 03.00 dan mereka akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa aksi damai. Akhirnya pada tanggal 5 Nov 2016 pukul 04.05 Aksi Bela Islam II resmi di bubarkan.

Sungguh heroik perjuangan saudara kita disana, membela apa yang memang harus dibela yaitu Al Quran. Selang beberapa hari banyak statement yang keluar menganggap aksi ini ditunggangi oknum politik bahkan ada yang mengatakan aksi ini bayaran 500.000. Mungkin memang ada oknum politik yang ikut aksi ini tapi sekali lagi ini bukan masalah politik tapi masalah hati umat muslim yang ternodai dengan penistaan Al Quran.

Dari aksi ini saya pribadi sangat menyayangkan sedikit kericuhan yang terjadi dan juga sikap Presiden RI yang tidak menemui para peserta aksi dengan malah meninjau proyek di bandara yang mungkin bisa di tunda lain waktu. Apakah tidak ada fasilitas helikopter untuk Presiden apabila alasan jalan jalan yang tidak memungkinkan? Ketika jalanan macet biasanya Polisi juga bisa membuka jalanan apabila ada pejabat pemerintah yang lewat, apa ini tidak bisa? Mungkin ini pemikiran sempit saya yang seorang karyawan perusahaan biasa dan hanya lulusan diploma. Andaikan Presiden datang dan shalat bersama di Masjid Istiqlal mungkin tidak akan terjadi kericuhan, tidak sampai larut malam, dan bahkan tidak akan ada korban jiwa. Tapi saya apresiasi untuk Bapak Presiden RI yang pada dini hari pukul 00.10 tanggal 5 Nov 2016 menggelar konferensi pers pernyataannya akan Aksi Bela Islam II yang berjalan damai ini. Polri pun memenuhi janjinya tepat 2 minggu setelah Aksi Bela Islam II menetapkan Gubernur yang menistakan Al Quran sebagai tersangka.

Setelah ditetapkan menjadi tersangka tak lantas membuat umat muslim merasa selesai perjuangannya, umat muslim harus mengawal sampai keputusan palu hakim di ketukkan. GNPF-MUI pun berencana akan mengadakan aksi lanjutan Bela Islam III yaitu istighosah, doa untuk negeri dan shalat jumat di sepanjang Semanggi - Istana. Banyak pihak yang tidak setuju dengan adanya aksi ini sampai ada pelarangan untuk peserta berangkat ke Jakarta dan himbauan bagi perusahaan transportasi untuk tidak melayani peserta yang akan ikut aksi. Melalui mediasi yang dilakukan oleh MUI yang mempertemukan GNPF MUI dan Polri maka terdapat beberapa poin kesepakatan yaitu aksi akan dilakukan di lapangan Monas dan menghentikan himbauan yang melarang keberangkatan peserta dan menghalang-halangi perusahaan bus yang akan mengantarkan para peserta aksi ini.

Tanggal 2 Des 2016 sudah mulai banyak pemberitaan tentang persiapan Aksi Bela Islam III, banyak rombongan dari berbagai wilayah Indonesia mulai berdatangan ke Jakarta. Salah satu rombongan yang sangat heroik menurut saya adalah rombongan dari Ciamis, yang mana mereka berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Kemarin ketika saya berangkat ke Bandung melewati Ciamis waktu yang saya tempuh kurang lebih 3 jam untuk sampai Bandung dari Ciamis, bisa dibayangkan betapa jauhnya perjalanan yang akan mereka jalani. Rasa simpati pun mengguyur ribuan peserta Ciamis ini, mereka tak pernah kekurangan stok konsumsi untuk menemani perjalanan mereka karena masyarakat sudah siap menyambut mereka dipinggir jalan dengan makanan dan minuman. Lantunan takbir menggema disetiap jalan yang mereka lewati, panas terik dan kerasnya aspal tak pelak membuat sedikit luka dikaki mereka tapi tetap saja ada orang yang memperhatikan mereka dengan menyiapkan sandal gunung yang mungkin bisa lebih melindungi kaki mereka.

Akhirnya pada tanggal 3 Des 2016 mereka sampai di Bandung disambut oleh Walikota Bandung dan Gubernur Jabar, Bapak Gubernur pun menjanjikan fasilitas transportasi untuk mengangkut para peserta aksi dari Bandung ke Jakarta. Saya bertemu dengan rombongan kafilah Ciamis ini saat saya dalam perjalanan bekerja mengunjungi Rumah Sakit dan tiba-tiba ada berkas tertinggal yang harus membuat saya kembali ke kantor. Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan saya untuk melihat para mujahid pembela Al Quran, terasa bercampur aduk rasa ini antara bangga punya saudara muslim yang semangat berjuang membela Al Quran dan sedih belum bisa ikut berjuang bersama mereka. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa mendoakan semoga perjuangan mereka dibalas kelak, semoga Al Quran jadi pembela mereka di akhirat nanti.

Rombongan lain yang menyita perhatian saya adalah rombongan yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Mereka berangkat ke Jakarta dengan menyewa beberapa pesawat untuk berangkat ke Jakarta lantaran ada larangan bagi perusahaan bus untuk pemberangkatan aksi ini. Rombongan kafilah Bogor pun tak mau kalah berfastabiqul khoirot dengan para kafilah lain, mereka berjalan dari Bogor menuju Jakarta. Berbagai rombongan datang berbondong-bondong ke Jakarta untuk ikut Aksi Bela Islam III, kampung saya Wonosobo pun memberangkatkan 10 bus untuk ikut menjadi peserta aksi.

Banyak sekali halangan yang diterima para mujahid-mujahid ini ketika akan berangkat ke Jakarta tapi tak menghalangi niat yang kuat dalam hati mereka. AA Gym yang akan memberangkatkan puluhan ribu santrinya pun terpaksa dibuat kecewa oleh pihak bus yang tiba-tiba membatalkan pesanan beliau. Tak jadi halangan bahkan semakin membuka hati banyak orang untuk saling bahu-membahu berjuang di jalan Allah.

Saya yang tak bisa ikut dalam Aksi Bela Islam III ini memilih berperan sebagai Muslim Cyber Army yang siap melawan fitnah di media sosial, siap menyebarkan fakta kebaikan yang ada, dan siap menunjukkan bahwa islam rahmatan lil ‘alamin. Saya selalu menyaring informasi yang saya dapat dari media sosial dan kemudian saya share kembali sebagai salah satu andil saya dalam Aksi Bela Islam III.

Kawasan Monumen Nasional yang menjadi pusat dari Aksi Bela Islam III pada pukul 09.00 pun sudah padat dan tidak akan mampu menampung lebih banyak lagi. Peserta sampai memadati jalan sepanjang Medan Merdeka Timur, Gambir, sampai Tugu Tani. Atmosfirnya lebih mendalam dari aksi 411, banyak masyarakat yang membagikan makanan dan minuman gratis kepada para peserta aksi, saling bantu ketika akan wudhu, saling mengingatkan apabila keluar perkataan kotor dan gema takbir yang tak pernah usai. Inilah kekuatan umat muslim yang sesungguhnya, saling tolong menolong dan tak pernah berhitung dengan apa yang ia punya karena pada dasarnya ia tak punya apa-apa.

Menjelang shalat jumat rintik hujan mulai turun membasahi para peserta Aksi Bela Islam III, seakan tubuh mereka di basuh atas perjuangan mereka membela Al Quran. Bapak Presiden beserta Wapres dan jajarannya pun ikut turut serta menjadi makmum pada shalat jumat tersebut. Sungguh aksi yang sangat mulia, yang sangat damai, dan yang akan menjadi contoh dan standar pada aksi-aksi selanjutnya. Peserta Aksi Bela Islam III yang diperkirakan lebih dari 7 juta jiwa ini menyita perhatian dunia, menunjukkan Indonesia adalah negara yang demokratis, dan menunjukkan bahwa Islam agama yang benar-benar cinta akan kedamaian.

Aksi Bela Islam III yang lebih dikenal dengan aksi 212 menunjukkan betapa berkualitasnya ukhuwah islamiyah yang dimiliki umat muslim, berkumpul menjadi satu dari berbagai daerah, ras, dan suku demi membela Al Quran dan mendoakan negeri ini. Aksi ini juga menjadikan gerbang kebangkitan umat islam dimana setiap orang dari setiap persyarikatan bahkan yang mempunyai perbedaan keyakinan mazhab bisa berkumpul dalam satu komando islam. Sudah jelas sekarang Al Quran lah yang mampu menggerakkan berjuta hati masyarakat di Indonesia, bukan politik pilkada bahkan hanya sekedar bayaran 500.000. Aksi ini juga menjadi pembelajaran bagi media massa di Indonesia yang mana dalam pemberitaan nya harus bersifat obyektif bukan membela salah satu pihak dan harus sesuai fakta di lapangan sehingga tak perlu ada penolakan stasiun TV pada saat meliput acara.

Aksi 411 dan 212 merubah segalanya, banyak gerakan yang muncul untuk membangkitkan semangat berjuang umat muslim seperti 212 mart, koperasi 212, dan mulai banyak penguatan ekonomi dalam umat islam. Ini menunjukkan era baru dalam generasi muslim akibat getaran Surat Al Maidah, semangat reformasi umat muslim yang mulai di galakkan semoga menjadikan kekuatan baru umat muslim dalam segala aspek. Selamat datang di Era Muslim Milenium dan mari kita selalu jaga semangat 411 dan 212 agar Islam benar-benar bangkit.


Akbar Wicaksono
Bandung, 19-12-2016

Kamis, 15 Desember 2016

Berselimut Rindu

"Kriiiing..kriiiing..." Bunyi alarm membangunkanku dari lelapnya tidur semalam setelah mencari oleh-oleh untuk ku bawa pulang ke kampung halaman tercinta, Wonosobo. Yah akhirnya hari ini aku akan pulang untuk menjenguk orang tua setelah 6 bulan berkelana dan belajar bertahan hidup sendiri tanpa keluarga, dan ternyata aku tak bisa. Selalu ingin kembali kerumah, selalu ingin bercengkerama dalam dinginnya senja bersama segelas teh hangat. Sebentar lagi inginku ini akan tercapai melepas penat memeluk kerinduan akan hangatnya rumah.

Kereta api lah yang ku pilih untuk menemani perjalanan ku ke Purwokerto kemudian lanjut ke Purbalingga untuk sekedar berkunjung ke rumah Doni, sahabat yang dulu satu kamar ketika masih sama-sama belajar ilmu keperawatan. Sampailah di Purwokerto pukul 20.00 yang mana saat itu aku di jemput oleh Dendi. Dendi adalah teman dari Doni, kita sudah sering bertemu bahkan pernah sampai malam nongkrong minum kopi dan disisipi obrolan kecil di tengah dinginnya Wonosobo. Memang sengaja aku agendakan kepulanganku ini untuk mampir ke Purbalingga untuk menjenguk Ibu-nya Doni yang 2 bulan lalu sakit dirawat di rumah sakit. "Kapan aku bisa menjenguk ibu-nya Doni? Yah semoga ada waktu ketika pulang untuk menjenguknya"  gumamku dalam hati kala itu. Alhamdulillah akhirnya bisa menjenguk meskipun hanya sehari.

Aktor yang kutunggu pun baru muncul esok hari pukul 08.00 karena saat itu ia jaga malam di salah satu rumah sakit ortopedi di Purwokerto. 3 tahun kami berteman, satu kamar, tidur satu kasur berdua, tiap malam kami saling mencurahkan perasaan apapun itu entah masalah wanita, keluarga, masa depan, bahkan ketika kami tak punya uang kami saling berbagi, beli bakso keliling menggunakan tabungan receh 500an dikamar kami, ah sungguh indah memori itu. Meskipun hanya beberapa jam bertemu tapi cukup untukku masuk kedalam dunianya, bercerita masa lalu, bercerita tentang teman angkatan, semua itu yang kami sebut "obrol dobol" hehe.

Waktunya aku melanjutkan perjalanan ke Wonosobo, dalam rintik hujan dan bau bus yang sangat khas aku mmencoba mengingat memori 2 tahun silam. Sudah lama aku tak berada dalam keadaan seperti ini, dalam bus yang penuh sesak, bau badan para pencari nafkah, berdiri yang membuat leherku tersiksa karena harus menunduk, aku coba untuk menikmati perjalanan ini. "Selamat Datang di Wonosobo" terpampang jelas kata itu di tugu perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara. Sebentar lagi  aku sampai, segera aku membuka blackberry messenger ku untuk memberi tahu adikku Satrio untuk bersiap-siap menjemputku. Sampailah aku dirumah kecil nan hangat, kujabat tangan kasar penuh perjuangan, kucium sebagai bentuk baktiku pada mereka, yah mereka Bapak dan Ibu ku. Semoga selalu di beri kesehatan untuk mereka. aamiin

Esok hari aku berniat untuk membuat kartu pencari tenaga kerja di Disnakertrans Wonosobo, hanya untuk jaga-jaga apabila dibutuhkan mendadak. Kuhubungi salah seorang anggota Sohibul Iman yaitu Fikri untuk menemaniku sekaligus bisa berkunjung ke kantor IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), bernostalgia melihat rekam jejak perjuangan bersama teman dulu. Tak lupa kita berkunjung ke salah satu masjid terfavorit yaitu Masjid Al Arqom di depan SMA Muhammadiyah Wonosobo. Setelah shalat jumat kami kembali ke kantor IPM, disana bertemu dengan beberapa teman ketika kami berorganisasi dulu. Sungguh hal yang tak disangka-sangka kami bisa bertemu, memanfaatkan waktu sedikit mengobrol mengenai nikah muda yang selalu membuat malu diri sendiri.

Hari-hari berikutnya aku berkunjung ke saudara-saudara semua, mulai dari mbah, bulek, budhe, semuanya aku kunjungi. Meskipun sebentar setidaknya aku tahu bagaimana keadaan mereka, kesehatan mereka, merasakan hangatnya suasana saudara, dan melepas belenggu rindu kepada mereka. Malam hari adalah golden time bagi sebuah keluarga di kota kecil yang dingin, segelas teh hangat disertai tempe kemul menemani diskusi kita sekeluarga malam itu. Diskusi atau obrolan kami di ruang keluarga sedikit menyinggung mimpi aku dan adik ku, bahkan aku pun menangkap apa yang mereka impikan dimasa tua mereka. Semoga kelak akan ada kesempatan sedikit membalas perjuangan mereka. Mereka adalah orang tua yang sangat peduli akan mimpi anaknya, yang rela berjuang agar anaknya mampu belajar dari kehidupan, dan yang rela mengorbankan kekayaan hartanya demi kekayaan pola pikir anaknya. 

Pagi ini aku segera bersiap untuk menemui teman yang kami sebut Let's, kami sepakat untuk bertemu di salah satu cafe yang paling hits di kota Wonosobo. Langit mendung jadi temanku selama perjalanan ke cafe tersebut hingga di tengah perjalanan akupun harus menggunakan jas hujan karena gerimis mulai datang di kota yang kerap di juluki kota hujan ini. Fikri dan Laili sudah menunggu disana, akhirnya kita pun bisa kumpul kembali setelah terakhir berkumpul akhir tahun lalu, ya tepat satu tahun. Meskipun beberapa personil ada yang tak bisa hadir tapi kami masih bisa berjumpa via video call seperti dengan Dika. Memang sekarang dunia yang serba canggih tak bisa jadi penghalang kita untuk bersilaturahim, banyak cara yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Hal yang tak disangka adalah kami bertemu dengan teman seperjuangan kami ketika masih di IPM, setelah 5 tahun tidak bertemu karena saling belajar di perguruan tinggi, Miftah. Tiba-tiba suasana cafe tersebut heboh karena kami berempat, serasa kembali ke masa dimana kita masih 17 tahun. Layaknya orang yang sudah lama tak jumpa kami pun sibuk bertanya keadaan, pekerjaan dan masih banyak lagi. Hal yang paling aku kagumi dari seorang Miftah adalah ia mampu menjaga istiqomah dalam ibadahnya seperti shalat tahajud dan puasa daud. Semoga aku bisa istiqomah seperti beberapa temanku yang sudah berjalan bersama indahnya pelukan istiqomah.

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dzalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrabku(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia." (QS. Al Furqan: 27-29). Memang tak sepantasnya ketika semua orang kita jadikan sebagai teman, kita harus mampu memilih dan memilah teman untuk bisa bersama-sama membuat diri kita menjadi lebih baik lagi. Dan dari ayat Al Quran diatas semoga kita tak salah dalam memilih teman, semoga kita mendapat teman yang selalu membuat kita dekat dengan Allah. Aamiin

Dalam dingin dan sejuknya udara pagi ini aku berangkat kembali ke Bandung, kupeluk dan ku cium tangan kedua orang tua ku sembari meminta restu agar dimudahkan dan dilancarkan dalam setiap hal yang aku jalani. Kupalingkan muka pada suasana yang indah dirumah, suasana ramah tamah di kampung halaman, dan saatnya kembali menatap mimpi yang harus aku perjuangkan. Roda bus-pun perlahan meninggalkan tanah dimana 18tahun aku berpijak dan suatu tempat yang akan selalu jadi tujuan untukku kembali. Colekan mesra kernet bus membangunkanku dari lamunanku menyusuri segala kenangan indah di kotaku ini. "Ah sudahlah, saatnya berjuang lagi dan mengumpulkan serpihan rindu akan semua keindahan kota ku ini" gumamku dalam hati.

Dan kesimpulan dari perjalanan ini adalah indahnya berjabat dengan silaturahim, bertegur sapa dalam wajah penuh senyum, dan memeluk hangatnya persaudaraan. Seperti banyak dijelaskan dalam Al Quran bahwa orang yang memutus tali silaturahim atau persaudaraan adalah orang yang dilaknat oleh Allah SWT.  Dalam surat Muhammad ayat 22-23, Allah SWT berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.”

Salam rindu kota ku,

Akbar Wicaksono
Bandung, 15 Desember 2016



http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/12/17/mxx7dv-keutamaan-silaturahim

Kamis, 01 Desember 2016

Pejuang Allah

Secara kebetulan alias sudah diatur Allah pada saat perjalanan bekerja untuk mengunjungi Rumah Sakit bisa bertemu saudaraku muslim dari kafilah Ciamis saat melintas di jl.Soekarno Hatta Bandung yang berjalan kaki dari Ciamis untuk aksi damai 3 di Jakarta..
Berkecamuk hati ini antara haru perjuangan mereka membela alquran, bangga punya saudara yg punya ghirah agama tinggi, dan sedih karena tidak bisa bergabung dengan pejuang ini. Sungguh tak beraturan rasa ini.
Tak tergambar rasa lelah pada diri mereka di tengah terik matahari dan panasnya aspal, langit yang biasanya merintikkan air hujan pun enggan menampakkan.
Memang jika dipikirkan untuk apa jalan kaki beratus-ratus kilometer, diterpa dinginnya hujan dan panasnya terik matahari, tapi ini masalah hati, hati yang bergerak karena pedoman hidup yang di nistakan. Dan masyaAllah, pertolongan Allah pun nyata adanya, bantuan logistik tak pernah kurang bahkan berlebih, bantuan mobil pun banyak namun mereka memilih berjalan kaki. Inilah kejadian dimana hati yang bergerak akan menggerakkan beribu hati yg lain.
Semoga sandal, sepatu, tetes keringat, aspal yang kau injak, dan darah kering yang ada di kakimu akan menjadi saksi perjuanganmu kelak di akhirat.

Belum lagi saudara dari kampung ku Wonosobo yang sore ini berangkat ke Jakarta dan saudara-saudara ku yg lain dari seluruh penjuru Indonesia. Semua berbondong-bondong ke Jakarta demi tujuan yang sama.

Kami saudaramu amat sangat bangga pada kalian para pejuang Alquran. Kami punya semangat yang sama denganmu kawan, hanya saja kami tak bisa berangkat kesana karena berbagai hal. Kami hanya bisa mendoakan mu saudaraku semoga kalian semua para kafilah dari penjuru negeri di berikan kesehatan dan keselamatan. Kami yang tak bisa ikut akan berjuang di atas sajadah kami. Salam perjuangan saudaraku.

Akbar Wicaksono
Bandung, 1 Desember 2016
Powered By Blogger